Dyah Safitri Yuniar: Dosen DKV yang Mendalami Fotografi Smarthphone

Fotografi Smarthphone

Unsplash by Dimitri Tyan

Bila kamu pecinta home decor, mungkin akun Instagram Dyah Safitri Yuniar sudah tidak asing lagi. Dosen jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di ASRD MSD, Yogyakarta ini sering berbagi tips seputar menata ruang dan juga fotografi. Selain berbagi foto tentang desain interior rumahnya, belakangan ini Dyah juga kerap mengisi kelas-kelas untuk basic fotografi. Salah satunya pada event Basic Styling Photography Using Smartphone Camera yang diselenggarakan oleh Perempuan Punya Karya, 11 November 2017 ini.

Agar lebih kenal dekat dengan pemilik akun Instagram @dysavitri, yuk simak obrolan Perempuan Punya Karya bersama Dyah berikut ini!

Mbak Dyah boleh diceritain nggak kesibukannya saat ini?

Kesibukan sehari-hari sebagai dosen di ASRD MSD mengajar di jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV)  saat ini sebagai dosen tetap.  Mengampu mata kuliah copywriting,  teori media komunikasi,  tipografi,  DKV 3-branding dan packaging,  dan DKV 4- metode perancangan DKV. Selain itu mengisi workshop tentang fotografi.

Oh iya, kalau diamati di Instagram, belakangan ini Mbak Dyah memang sering mengisi workshop fotografi ya. Boleh diceritakan bagaimana awalnya mbak?

Iya,  awalnya tahun lalu saya bikin untuk pengabdian masyarakat.  Sebagai dosen itu termasuk dalam tri dharma perguruan tinggi selain mengajar dan meneliti.  Sejak itu saya banyak diundang mengisi workshop dengan peserta wirausahawan,  instagramer,  pelaku UKM,  mapun pemilik online shop.  Bisa dibilang hampir 90% pesertanya perempuan. Artinya ilmu foto ini sebetulnya menarik juga buat perempuan karena bisa dimanfaatkan untuk mendukung bisnis dan usaha mereka.  Selain menjadi ibu rumah tangga,  para perempuan ini bisa sambil jualan kue atau baju di sosmed misalnya.

Ngomongin soal fotografi, itu termasuk passion atau hobi?

Fotogragi itu hobi.  Passion saya tetap di dunia kreatif,  desain dan seni rupa,  apapun itu.  Saya wujudkan dalam bentuk menjadi pengajar. Sebetulnya dari mengajar saya jadi terus belajar, terus bertemu orang-orang baru,  membuka wawasan, dan update ilmu terbaru.

Kalau boleh tahu, bagaimana sih proses Mbak Dyah belajar fotografi?

Kalau belajar formal,  dulu waktu kuliah ada fotografi dasar dan fotografi desain.  Tapi waktu itu tidak menjadi minat karena belum punya uang untuk membeli kamera.  Nah, saat ini karena dari HP saja kualitas gambar bagus dan mendukung feed di instagram,  jadi saya belajar kembali secara otodidak, dan ikut beberapa workshop juga.

Mbak Dyah boleh share donk, fotografi tentang apa sih yang menjadi favorit mbak dan kenapa?

Saya suka fotografi ruang/space, jadi saya lihat katalog ikea aja senang.

Entah kenapa melihat padu padan furniture itu bisa membawa suasana yang berbeda-beda. Saya merasa satu benda dengan benda lain bisa seperti berinteraksi,  kerasa unity-nya,  dan seolah-olah kita berada diruangan tersebut.  Saya juga suka still life,  benda mati tapi terkesan hidup karena konsep yang dibangun seperti ingin menyajikan sebuah cerita pada audience.  Still life bisa seperti lukisan yang bisa bikin kita termenung saat melihat objek foto bunga kering diatas buku usang,  disudut meja di samping jendela. Saya  bisa membayangkan siapa ya yang dulu menaruh bunga tersebut? Lalu meninggalkannya sampai kering dan  siapa sosok yang dulu sering termenung di dekat jendela,  mungkin menunggu seseorang?  Ya seperti itu.

Harapan mbak tentang karir mbak di dunia fotografi setahun hingga tiga tahun ke depan apa?

Saya sih tidak menginginkan hal yang muluk-muluk karena saya tergolong masih baru sebetulnya,  baru belajar kembali.  Hanya ingin memotivasi bahwa dengan smartphone yg kita genggam sehari hari,  kita bisa menghasilkan foto yang baik untuk berbagai keperluan.  Saya ingin membangun komunitas fotografi dimana para perempuan bisa hunting barengan,  belajar bareng tentang ilmu fotografi.  Kalau sehubungan dengan profesi saya,  saya ingin karya foto saya mendukung karya karya desain yg saya buat.

Kesan-kesan yang tak terlupakan saat menekuni fotografi apa saja sih mbak?

Kalau yang berkesan sih keseruan huntingnya ya. Dibalik foto bagus ada fotografer yang berpanas panas,  berkeringat,  manjat manjat,  kalau yg motret dirumah kerasa encok pegelnya geser geser props,  berantakan ga karuan.  Kalau saat motret rumah,  aku termotivasi untuk menampilkan rumah rapi dan serasi,  jadi sebetulnya dari motret jadi kayak terpaksa beresin rumah

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *