Liapharaoh, belajar makeup bermodal dari seserahan pernikahan

Bisa dibilang, makeup artist kini merupakan salah satu profesi bergengsi di dunia kecantikan. Tak hanya kaum perempuan, bahkan banyak kaum pria yang menggeluti bidang tersebut. Profesi sebagai makeup artist atau MUA tak hanya dibutuhkan untuk event seperti pre-wedding atau pernikahan. Jasa seorang MUA juga berkaitan erat dengan bidang kreatif seperti fotografi, majalah, biro iklan, maupun stasiun televisi.

Hastin Nur Anitalia atau lebih dikenal dengan nama Liapharaoh adalah salah satu makeup artist yang melihat peluang dan kesempatan tersebut. Wanita kelahiran 26 tahun silam ini sudah malang melintang di dunia kecantikan selama 4 tahun.

Sebagai seorang MUA yang kini menetap di Yogyakarta, Lia mempunyai cerita menarik tentang pengalamannya selama berkarier di dunia kecantikan. Penasaran? Simak yuk hasil interview Perempuan Punya Karya dengan Liapharaoh beberapa waktu lalu.

P: Gimana sih ceritanya kamu bisa menjadi makeup artist?

L: Cerita awal jadi MUA sebenarnya nggak sengaja. Saya belajar makeup secara otodidak. Awalnya di tahun 2013, setelah menikah, saya support pekerjaan suami sebagai fotografer. Saya sering bantuin dia makeup untuk keperluan photoshoot di studio. Lama kelamaan makin banyak tawaran dari luar studio, mulai dari makeup untuk wisuda sampai pernikahan. Dan alhamdulillah tawaran tersebut terus berdatangan sampai sekarang.

P: Belajar make up dari mana?

L: Waktu itu dunia makeup dan profesi makeup artist sendiri belum begitu seterkenal sekarang, jadi saya belajar dari video-video tutorial makeup di Youtube saja. Setelah saya melihat video tutorial, saya selalu tertarik untuk praktik langsung.

Beruntungnya, awal saya belajar makeup sudah memiliki alat make up hasil pemberian seserahan saat pernikahan. Alat makeup itulah yang saya maksimalkan untuk belajar.

P: Kapan menemukan passion dan apa sih yang dirasakan saat harus merias wajah klien pertama kali?

L: Setelah menikah, saya makin yakin untuk memilih makeup artist sebagai profesi. Keyakinan itu sebenarnya juga karena dukungan suami yang sedari awal sudah percaya kalau saya punya kemampuan di bidang makeup. Dia tak hanya menyadarkan saya akan peluang profesi yang luas sebagai makeup artist, tapi juga menguatkan saya ketika merasa kurang percaya diri atau takut untuk menerima setiap tawaran yang ada.

Iya karena saya memang awalnya takut saat merias wajah klien pertama kali. Takutnya lebih karena pekerjaan saya kan dibayar, jadi takut kalau nggak bisa memuaskan klien. Apalagi saya nggak ikut kursus makeup, nggak punya sertifikat dan nggak pernah punya pengalaman menang kompetisi apapun. Tapi karena saya juga terus belajar, semakin lama semakin berani saat harus berhadapan dengan klien.

P: Kini semakin banyak MUA yang bermunculan, ada kendala yang kamu hadapi nggak?

L: Kendala sih nggak ada ya karena bagi saya dengan semakin banyak MUA yang bermunculan yang terpenting adalah masing-masing MUA mempunyai ciri khusus.

P: Ada strategi khusus nggak biar bisa tetap eksis berkarya di dunia kecantikan?

L: Nggak ada sih, yang penting konsisten dan punya style makeup yang jadi signature masing-masing. Jadi orang lain akan memilih dan semakin yakin dengan kemampuan kita.

P: Menurutmu, kriteria MUA yang baik itu seperti apa?

L: Menurut saya seorang MUA harus bisa mengarahkan tipe makeup yang cocok dengan kepribadian klien itu seperti apa. Sebisa mungkin bertanya atau berdiskusi terlebih dahulu tentang makeup apa yang disukai atau diinginkan klien. Jadi, saya sendiri pun demikian, selalu bertanya di awal mengenai tipe makeup yang diinginkan klien.

Selain itu seorang MUA harus profesional ketika dihadapkan dengan tawaran pekerjaan yang berbeda jumlah pendapatannya di waktu bersamaan. Harus memilih tawaran yang terlebih dahulu sudah disepakati dengan klien, meski jumlah pendapatan yang diterima bakal lebih sedikit dari tawaran satunya.

P: Siapa sih sosok yang paling mendukung karier kamu dari awal sampai sekarang?

L: Suami, karena dialah yang menuntunku untuk terus berkarya dan membuat saya bisa dikenal oleh banyak orang karena nama saya sendiri. Bukan karena nama suami. Meskipun nama Liapharaoh itu sendiri merupakan hasil gabungan nama saya dengan nama suami, tapi tetap saya dikenal berkat karya saya sendiri.

P: Apa sih yang membuatmu bahagia terkait profesi sebagai make up artist?

L: Simple sih, ketika klien terlihat lebih cantik dan merasa senang dengan hasil makeup saya.

P: Rencana ke depan atau impian yang ingin dicapai?

L: Pengen punya studio makeup yang harapannya bisa jadi tempat belajar siapapun yang ingin jadi makeup artist. Kalau impian sih semoga sampai tua nanti masih bisa terus berkarya. Amin!

P: Ada saran untuk para pembaca atau kaum perempuan yang ingin berkarier sebagai make up artist?

L: Berkaryalah dengan style makeup masing-masing dan terus konsisten. Manfaatkan media sosial secara maksimal untuk promosi dan branding. Selain itu, sebisa mungkin punya banyak link supaya makin banyak orang yang merekomendasikan nama kita ke orang-orang.

Last but not least, thanks Kak Lia for sharing your story with Perempuan Punya Karya. Semoga karier sebagai makeup artist makin sukses dan makin dikenal oleh banyak orang.