Ngobrol bareng Mila Rosinta, sang penari dengan hati

Namanya Mila Rosinta Totoatmojo. Cantik, muda dan berprestasi. Salah satu figur perempuan punya karya yang menekuni dunia seni tari hingga mampu menciptakan puluhan komposisi tari kreasi maupun kontemporer karena kecintaannya. Tak hanya itu, berbagai penghargaan pun telah ia terima dan hingga kini menari telah membawa Mila tampil sampai ke panggung luar negeri.

Nah, beberapa waktu yang lalu, Perempuan Punya Karya berkesempatan melakukan wawancara bersama Mila Rosinta tentang cerita perjalanannya menekuni dunia seni tari. Penasaran? Langsung aja yuk simak wawancara Perempuan Punya Karya waktu ngobrol bareng Mila Rosinta di bawah ini.

P: Ceritain dong bagaimana langkah awal masuk ke dunia tari?

M: Sejak kecil, orangtua selalu mengikuti dan mendukung kemauanku untuk menjajal berbagai macam hobi dan kesenanganku melalui kegiatan kursus seperti melukis, berenang, musik, modeling hingga tari. Namun, dari sekian banyaknya kegiatan yang aku ikuti, aku sering menjuarai lomba menari di berbagai tingkat kota hingga nasional.

Nah, dengan semakin banyaknya prestasi yang aku miliki aku langsung dipercaya menjadi ketua sanggar seni dan sering diminta untuk mengajari teman-teman komposisi tari. Padahal saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar.

Lewat tari Bali menjadi langkah awal aku mengenal dunia tari. Guru menariku galak banget dulu. Bisa dipukul kalau gerakannya nggak benar. Tapi dari situ aku semakin yakin dengan peran penari yang aku jalani.

Mila Rosinta

P: Jadi udah dari zaman sekolah dasar belajar tari dan menciptakan berbagai komposisi tari, apakah masih berlanjut setelahnya?

M: Iya, saat SMP aku juga masih dipercaya untuk menjadi ketua sanggar tari di sekolah. Selain rajin berlatih, aku juga sudah mulai mencipta gerakan kreasi maupun modern terus aku bawakan bersama teman-teman. Aku juga mulai belajar gerakan cheerleader dengan datang ke acara-acara anak SMA. Selain itu aku juga makin sering mengikuti berbagai pentas di berbagai kota di Indonesia.

P: Kemampuan menari sudah diasah sejak duduk di bangku SD dan SMP sewaktu di Jakarta, setelah itu pindah ke Yogyakarta ya? Gimana kelanjutannya? Apakah masih semangat latihan dan belajar tari?

M: Tahun 2004 aku pindah ke Yogyakarta dan makin semangat untuk belajar banyak hal kaitannya dengan tari. Aku juga mengikuti berbagai kegiatan saat SMA, khususnya tari. Tapi aku nggak begitu fokus dengan tarian tradisi tapi lebih ke modern. Selain itu, aku ngumpulin teman-teman lagi untuk bikin cheerleader.

Nah, saat kelas 2 SMA aku diminta untuk mengikuti pertukaran pelajar ke negeri Jepang, aku harus belajar tari tradisi. Aku mulai belajar tari Jawa sebagai syarat untuk mengikuti program tersebut. Setelah sebelumnya menguasai tari Bali, aku kesusahan untuk belajar tari Jawa. Waktu belajar di Keraton aja aku sempat menangis karena beda banget sama tari Bali. Tarian Bali gerakannya tegas, cepat dan ekspresif sementara tari Jawa itu lemah lembut dan sangat meditatif.

Sempat mau menyerah tapi akhirnya aku meyakinkan diri untuk nggak boleh putus asa dan tetap mengikuti program pertukaran pelajar itu. Setelah belajar setahun, alhamdulillah lolos ke Jepang.

P: Sewaktu di Jepang, ada pengalaman menarik yang berhubungan dengan tari nggak?

M: Di Jepang selama 3 minggu aku ketemu sama seorang seniman. Aku lupa namanya tapi yang jelas dia orang Indonesia yang menikah sama orang Jepang. Di sana dia membangun sanggar seni kecil tapi selalu ramai.

Seniman itu membukakan mata aku bahwa profesi apapun itu bisa menjadikanmu seseorang yang sukses. Berarti dia bisa terus kenapa kita nggak bisa.

P: Selepas lulus SMA biasanya anak sekolah dituntut untuk menentukan tujuan mau meneruskan pendidikan dimana. Karena sudah mempelajari seni tari sejak kecil, sempat galau nggak saat harus menentukan tempat kuliah?

M: Tahun 2007, aku sebenarnya sudah diterima di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM tanpa tes karena aku memiliki sejumlah sertifikat. Tapi aku lepas karena aku lebih memilih kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta jurusan Penciptaan Seni Tari. Awalnya sempat ragu karena teman-teman banyak yang menyayangkan pilihanku. Tapi akhirnya aku meyakinkan diriku sendiri untuk memperdalam ilmu tari yang ku miliki itu bukanlah pilihan yang salah.

Saat kuliah aku bergabung di Tembi Dance Company (TDC). Melalui tahap seleksi dan persaingan dengan ratusan orang pendaftar, alhamdulillah aku lolos. Di sana aku digembleng habis-habisan, nggak pernah main, jadi kerjaanku cuma kuliah latihan kuliah latihan. Aku belajar banyak hal tentang berkesenian, kemampuanku menciptakan tari pun semakin terasah, dan selama berkarya di TDC bisa membawaku mengunjungi sejumlah negara di dunia untuk mempromosikan tarian tradisi, kreasi khas Indonesia dan karya kontemporer ciptaanku.

Selain itu aku juga belajar banyak tarian baik tradisi, kreasi, ballet, hingga hiphop maupun kontemporer. Meskipun aku basicnya tradisi tapi bagiku mempelajari semua jenis tarian adalah kunci seorang penari ataupun koreografer yang professional.

Aku mencoba mempelajari semua tarian yang ada kemudian memecah semua yang telah aku pelajari tersebut untuk menemukan ‘tubuh’ ku sendiri.

P: Sejauh ini komposisi tari apa saja yang pernah diciptakan dan tarian apa yang paling berkesan?

M: Srimpi Kawung (2009), The Chair (2010), Kawung Kontemporer (2011), Dream (2011), Dimensi Paralel (2012), Anak Panah Srikandi (2014), Refleksi Rupa Jiwa (2014), Bedayan Rikma (2015), Mother Earth (2017) dan masih banyak puluhan karya lainnya. Selain itu The Entrapment dan The Beginning juga karya yang aku ciptakan untuk sebuah pementasan di negeri Jepang.

Srimpi Kawung jadi tarian yang paling berkesan sekaligus menuai banyak kontroversi di antara seniman. Alasannya karena aku bukan orang Keraton tapi kok berani banget pakai nama Srimpi. Secara karya dan pemaknaan, para seniman sudah setuju tapi secara judul menuai kontroversi.

P: Hal yang paling bikin bahagia terkait apa yang ditekuni sekarang?

M: Bagiku menari adalah soal kepuasan hati dan kebebasan jiwa. Kebebasan yang membahagiakan karena ternyata juga  bisa menginspirasi bagi orang-orang disekitarku.

Aku merasa bahagia ketika banyak anak muda yang suka dan bangga dengan dunia seni tari. Selain itu aku juga merasa bahagia ketika karya ciptaanku diperhatikan dan diapresiasi positif oleh para seniman dan masyarakat.

P: Apa sih tantangan menjadi seorang seniman tari?

M: Bagaimana komposisi tari antara satu seniman dengan seniman lainnya itu tidak sama. Harus mencari keunikannya sendiri dan tidak bisa ditiru. Selain itu, tantangan yang susah adalah bagaimana konsisten terus berkarya, membuat festival, dan menari.

P: Impian yan belum tercapai?

M: Pengen bikin sekolah tari khusus untuk masyarakat yang kurang mampu. Harapannya supaya yang mereka ingin belajar menari nggak memusingkan soal biaya.

P: Rencana ke depan terkait apa yang dikerjakan sekarang?

M: Pengen lebih mengembangkan Mila Art Dance School, baik dari segi kurikulum maupun tenaga pengajar. Aku juga pengen mengadakan berbagai workshop dengan mengundang beberapa teman dari luar negeri untuk mengisi materi di MAD School. Selain itu juga rencananya juga pengen terus mengadakan festival tariku “Tinta Tari Festival” sebagai event untuk mendekatkan tari dengan seniman dan masyarakat. Kedepan pengen bikin portal khusus menari, entah berupa blog atau vlog. Dan yang terakhir keliling dunia untuk menari membawa nama harum Indonesia di Mancanegara.

P: Pesan untuk Para Perempuan Punya Karya atau para generasi muda?

M:
1. Jangan lupa berkarya. Jadilah anak muda yang kreatif bukan yang konsumtif.

2. Temukan passionmu. Ketika kamu mencintai sesuatu, maka akan selalu ada pengorbanan tulus untuk mencapai tujuanmu.

3. Ketika patah semangat, bayangkan kedua orangtuamu maka energi positif akan mengalir kembali dalam diri kalian.

4. Jangan lupakan siapa diri kita, dari mana kita berasal, jangan lupa budaya kita sendiri yaitu budaya Indonesia.

Well, thanks Kak Mila for sharing your story ya! Semoga makin sukses dan karyanya makin mendunia.

Mila Rosinta 2