Ngobrol Bisnis dan Passion Bersama Uma Hapsari, CEO Amazara

Uma Hapsari

Siapa yang tidak kenal brand sepatu lokal, Amazara? Nama brand ini memang tidak asing lagi di telinga kita. Terutama para perempuan yang ingin tampil stylish dengan desain sepatu up to date yang terjangkau. Beberapa waktu yang lalu, Perempuan Punya Karya berkesempatan melakukan wawancara bersama Uma Hapsari, perempuan yang menjadi sosok inti dari brand Amazara. Uma Hapsari selaku CEO brand sepatu lokal ini berbagi cerita tentang bisnis dan passion versinya. Penasaran? Yuk, ikuti obrolan kami selengkapnya!

Gimana sih soal keputusan membangun bisnis brand Amazara ini?

Jadi ngomongin soal bisnis Amazara ini awalnya aku memang tumbuh di keluarga dagang ya. Dari awal orang tuaku memang bekerja di bidang itu. Kemudian aku kuliah di Aussie dan selain kuliah, aku juga part time di perusahaan sepatu namanya Nine West. Pernah denger brand itu kan?

Selesai kuliah, aku kembali ke Indonesia dan menikah dengan suamiku. Waktu itu, kami belum punya pekerjaan lalu kami pun memutuskan untuk buka toko di Bantul. Sebenarnya toko ini lebih ke family bussiness. Cuma kita dibukain toko baru di lantai dua.

Awalnya toko ini khusus busana muslim, tapi kami melihat peluang untuk menjual produk lainnya mulai dari mainan, pakaian laki-laki, anak, dan sepatu. Ternyata, penjualan yang terbesar itu dari sepatu. Dari situ kami mikir kalau ingin bikin brand sendiri karena tadinya kan kami Cuma jualin brand orang.

Dari situ kami mencoba bikin brand sepatu dan difotoin sendiri semenarik mungkin. Semuanya masih dilakukan sendiri. Eh ternyata ada yang beli dan responnya di luar ekspektasi. Terus lanjut saja sampai sekarang.

Amazara - Narasumber Perempuan Punya Karya

 

Terus soal bisnis sepatu ini masuk ke passion atau nggak?

Kalau buat aku, passionku itu lebih ke enterpreneur bukan yang jadi bisnis woman di bidang sepatu. Alasannya jelas karena aku bukan desainer, tapi aku enterpreneur. Jadi, aku jual apa yang menarik dan laku.

I’m not a designer so I don’t put my idealism. Sebisa mungkin aku lihat dulu tren pasar sukanya apa dan yang laku apa. Kebetulan juga aku tahunya tempat untuk buat sepatu. Mungkin kalau aku tahunya konveksi atau tempat bikin tas, bisa jadi bisnisku bukan jualan sepatu, tapi jualan tas atau baju.

Jadi intinya nih jual dulu apa yang laku dan sambil jalan baru memasukkan sisi idealisme?

Ehm, sebisa mungkin nggak memasukkan sisi idealisme. Karena balik lagi aku itu passionnya sebagai enterpreneur bukan desainer, jadi aku nggak perlu memaksakan idealismeku ke dalam produk daganganku.

Uma Hapsari Amazara - Narasumber Perempuan Punya Karya

Kalau trik bisnis dari Amazara sendiri gimana sih?

Jadi begini, soal melempar produk ke pasaran aku itu nggak mau pakai asumsi. Untuk menjual produk baru misalnya, aku sebisa mungkin nggak berasumsi “wah high heels bakal laku nih”. Tapi aku coba dengan tes pasar. Tes pasar itu aku produksi beberapa model dengan jumlah terbatar lalu dilempat ke pasaran. Dari situ kita melihat produk mana yang paling laku. Nah, yang paling laku akan lanjut diproduksi dan yang kurang atau jelek penjualannya akan aku stop.

Setelah ngomongin soal passion dan bisnis, boleh tahu nggak siapa orang yang paling mendukung untuk menjalani passion dan bisnis ini?

Orang yang paling mendukung tentu suamiku. Tapi sebelum aku menikah dengan suamiku, my mother orang yang terlebih dulu mendukungku. Kalau sekarang sudah ada suami, semua pekerjaan kita kerjakan bareng mulai dari buka toko sampai building Amazara ini. Jadi tuh kami bagi-bagi tugas aja. Untuk bisnis ini kan suamiku Co-Founder-nya. Misalnya kaya foto gitu, suami yang ngefoto dan aku yang styling. Kalau sekarang dia ngurusin bagian gudang dan aku ngurusin bagian kreatifnya. Dan aku really happy punya suami yang happy punya istri pekerja.

Soalnya bakalan sulit banget kalau aku punya suami yang nggak seperti dia. Kadang ya ada kan perempuan yang bekerja seperti aku dan merasa bekerja sendiri karena suami nggak mendukung. Nah, di sini aku beruntung banget karena dia happy lihat aku bekerja dan membantu juga.

Uma Hapsari Amazara - Narasumber Perempuan Punya Karya 1

Walau baru setahun, tapi Amazara ini kan terlihat berkembang pesat. Apakah ada impian khusus ke depannya terkait brand ini?

Kalau ke depannya ada impian gimana-gimana gitu nggak ada sih. Yang penting Amazara ini jalan dan terus melakukan perbaikan. Sampai saat ini jujur aku masih cukup amaze dengan reaksi orang dengan brand ini. Intinya sih ingin mengembangkan lebih baik lagi aja. Maju terus dan kalau ada salah jangan diulangin. Udah gitu aja.

Karena sudah tahu banyak soal passion dan bisnis dari cerita kamu, boleh donk kita tahu hobi kamu apa?

Aku itu hobi banget sama baca buku. Like everyday aku bangun sekitar jam 4 pagi dan nanti sholat subuh, lanjut bikin kopi, kemudian baca buku. Aku sangat suka kopi, dulu waktu kuliah sempat kerja sebagai barista kopi gitu. Tapi kalau ngomongin hobi paling suka baca buku. Aku dari pagi habis subuh baca buku sampai jam 6 s.d jam setengah 7. Jam-jam segitu anakku bangun, nanti main sama anak sampai jam 8 atau setengah 9 pagi. Habis itu aku baru mulai kerja jam 9-an. Kalau pagi harus main sama anak dulu karena kadang aku mesti kerja sampai malam dan nggak ada waktu lagi sama anak. Jadi, aku manfaatin pagi hari sebelum bekerja.

Amazara - Narasumber Perempuan Punya Karya 1

Boleh tahu nggak sih kalau waktu tidur sehari-harinya jam berapa?

Gini kalau soal tidur aku pernah ngalamin yang harus wakeup sampai dini hari, tapi lately aku sudah bisa memperbaiki siklus tidurku. Sekarang sih paling telat aku usahain tidur jam 10 malam. Karena kalau nggak begitu siklus hidupku yang berantakan. Nanti pagi bangunnya kesiangan dan siang-siang malah ngantuk, jadi kurang produktif gitu. Selain itu kalau tidur larut bikin waktu untuk membacaku berkurang dan itu ngebetein banget.

Anyway Kak Uma, thanks for sharing your story ya!